My Dreams

Tittle: My Dreams

Author: Sinta Rahayu @HSRin

Casts: SHINee’s Key, Miss A Suzy

Length: Oneshot

Genre: Romance, AU

Rating: PG13

Note: ff ini sebenernya gak nyambung dengan jalan pikiranku di awal. Dan tau-tau ending nya begini. Tapi… Selamat membaca ^_^

Aku memiliki mimpi terbesar yang ingin kucapai hingga saat ini. Jika, aku bisa menukarnya dengan sesuatu yang kumiliki dengan mudah, maka aku akan melakukan itu.

Tanpa aku sadari apa yang kulakukan sekarang ini merupakan salah satu langkah menuju impian yang sangat ingin kucapai.

***

Aku menjalani diet ketat selama masa sekolah. Tak ada yang menuntutku untuk berdiet. Bahkan, tak ada yang mengata-ngataiku gendut. Namun, aku dengan keinginanku sendiri menginginkan hal ini. Agar aku tahu bahwa aku mempunyai sesuatu yang menonjol dalam diriku. Keinginan ku yang kuat membuatku berhasil secara perlahan.

Aku menjadi langsing juga tinggi. Membuat banyak yang iri terhadapku termasuk saudara sepupuku sendiri. Mereka bertanya-tanya apa rahasiaku agar bisa menurunkan berat badan secara ideal.

Aku bilang rahasia yang paling utama hanyalah keinginan dari dirimu sendiri.

Walaupun banyak teman yang tak percaya dengan rahasia itu. Namun, akhirnya mereka menyerah untuk tidak bertanya hal yang sama lagi padaku.

Ya, rahasiaku memang hanyalah itu. Keinginan kuatlah yang membuatku berhasil dengan perlahan dan menjadi sempurna.

Dan juga dia yang membuatku memiliki keinginan kuat seperti ini.

***

flashback

–2 tahun yang lalu–

Aku menjalani hariku sebagai semester pertama di Seoul. Disini adalah tempat dimana aku mengerti mana yang tampan dan mana yang tidak tampan. Bagaimana tidak aku mempunyai teman-teman yang selalu mengomentari laki-laki manapun yang lewat ataupun kakak kelas yang terkenal.

Kini aku tahu bagaimana rasanya masa remaja di smp yang sangat menyenangkan.

Suatu ketika aku bertemu dengan seorang ahjumma yang ingin membayarkan iuran bulanan nya. Akhirnya dengan senang hati aku mengantarkannya karena ia baru pertama kali datang ke sekolah ini.

Saat aku ingin kembali setelah mengantarkan ahjumma itu ke tata usaha, ada seseorang yang memanggilku. Seorang namja yang tinggi dan tampan dan membuatku tak bisa berkedip sesaat.

“Apa yang kaulakukan terhadap eomma ku?” Tanya namja itu, yang sepertinya sunbae ku. Aku menatapnya yang terlihat sinis dan dingin kepadaku.

“Ani… aku hanya mengantarkannya ke tata usaha.” Ucapku sedikit terbata.

“Benarkah?” Tanya nya dengan tatapannya yang tajam.

“Nnee…” Ucapku.

Aku sedikit menunduk, tak berani menatapnya. Namun, setelah beberapa saat aku malah mdengar suara tawanya. Aku mendongak dan mendapatinya, tertawa geli.

“Kenapa?” Tanyaku keheranan.

“Kau… ini terlihat gugup,” ucapnya sambil menahan tawa.

Aku hanya bengong tak mengerti. Mana mungkin aku tak gugup karena tatapan sinisnya yang membuatku takut.

“Memangnya aku akan memakanmu.” Ucapnya terkekeh. “Gomawo karena telah mengantarkan eommaku,” ucapnya.

“Ne cheonma, sunbaenim.”

Dia tersenyum, manis sekali. Rasanya aku ingin terus berada disini menatapnya yang sedang tersenyum.

“Panggil saja aku Key oppa.”

***

Sebulan sejak pertemuanku dengannya yang takkan terlupa itu. Sekarang aku sudah sangat dekat dengannya. Aku sangat menyukainya, ia menceritakan banyak hal padaku. Membuatku nyaman, itulah yang aku rasakan saat bersama dengan Key oppa.

Aku menuju toilet setelah menghabiskan makananku di kantin.

Kudengar ada beberapa murid lain yang bergosip di depan washtafel. Aku mencoba mendengarkan karena penasaran dengan suara mereka yang terdengar heboh. Aku mendengarnya diam-diam dari balik pintu toilet yang kugunakan. Sepertinya mereka kakak kelasku.

“Kau tahu Key yang waktu itu kau katakan sangat dekat dengan seorang hoobae?”

“Ya, kenapa memang?”

“Mereka itu sama sekali tidak berpacaran.”

“Jinjja? Berarti aku tidak perlu patah semangat dong!”

“Ya, aku bertanya padanya. Ia hanya menganggap hoobae itu adiknya sendiri. Key sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadap anak itu.”

“Huft, untung saja. Mana mungkin adik kelas yang bantet seperti dia bisa disukai oleh Key yang sangat fashionable.”

“Ya itu tidak akan mungkin terjadi.”

“Oh ya, siapa nama anak itu?”

“Bae Suzy.”

***

Aku berjalan dengan langkah cepat menuju rumahku. Jalanan yang biasa ku lewati terasa panjang. Aku hanya menunduk, berpura-pura tidak ada apapun. Air mata nyaris saja turusn dari mataku.

Kudengar Key Oppa terus memanggil-maggil namaku dari jauh.

“Kau sebenarnya kenapa?” Tanyanya yang kini sudah menggenggam tanganku dengam erat.

Aku tak kuat memandang wajahnya. Akhirnya tangisanku pun pecah. Key memelukku erat, menambah tangisanku semakin kencang.

“Aku menyukaimu oppa, apa kau tidak menyadarinya sejak dulu?” Tanyaku terisak.

Key oppa memandangku kaget. Ia menggenggam erat tanganku.

“Apa kau tidak sadar sejak dulu?” Ucapku kembali agar membuatnya tersadar.

“Aku… sama sekali tidak tahu suzy. Aku memang bodoh.”

***

“Aku memiliki kekasih lima tahun yang lalu. Ia lebih tua daripada diriku. Tapi aku sangat mencintainya karena ia memiliki rasa perhatian yang sangat dalam kepadaku. Ia membuatku nyaman. Namun tiga tahun kemudian ia meninggal karena kanker otak yang sudah menggerogotinya. Aku sama sekali tidak tahu, tentang penyakit itu.”

Aku kembali terisak mendengar caritanya. Key menggenggam tanganku dan menatapku nanar.

“Maafkan aku, aku belum bisa melupakannya walaupun ia sudah tidak ada.”

Aku menunduk, mencoba mengerti apa yang ia rasakan.

“Andai saja, kau bisa membuatku melupakan rasa cintaku padanya dan berpaling padamu.”

Flashback End

***

Seseorang menutup mataku dengan kedua tangannya. Dengan mudah kutebak kalau orang itu adalah Key Oppa.

“Oppa…” Ucapku merengek.

“Kenapa kau bisa tahu?” Tanyanya.

“Tentu saja aku tahu.”

“Aissh… sudah lima tahun aku pergi ke Paris, tapi kau masih tak bisa kulupakan.”

“Jinjja? Apa kau merindukanku?”

“Tentu saja, tapi bentuk tubuhmu banyak berubah.” Ucapnya.

“Aku… hanya melakukan diet oppa,” ucapku ragu.

“Kau tambah cantik dan anggun.” Pujinya, membuat semburat merah nampak jelas di wajahku.

“Kau harus menepati janji sekarang.” Ucapnya lagi.

“Apa?”

“Kau harus ikut denganku ke Paris,” ucapnya.

“Mwo?”

“Menikahlah denganku.”

The End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s